@BayuTheManiac

[Detektif 46 Series] #1 – Harta Karun ???

In Detektif 46 Series on 27 December 2012 at 21.03

Bel istirahat di SMAN 46 baru saja berbunyi. Ekspresi riang gembira mulai tampak di wajah murid-murid yang sudah bosan mendengarkan gurunya. Semua rasa kantuk ketika jam pelajaran tadi hilang seketika. Segera setelah guru meninggalkan ruang kelas, siswa-siswi yang sudah dari tadi mengidamkan udara segar langsung melangkahkan kaki keluar kelas, tidak ingin menyia-nyiakan sedetik pun waktu istirahat yang diberikan. Ada yang pergi ke kantin untuk mengisi perut dan bergosip di sana, ada juga yang pergi ke mushalla untuk menunaikan ibadah shalat dhuha, dan bahkan ada juga yang lari terbirit-birit menuju toilet untuk melepaskan hasrat ingin buang air yang sudah ditahan dari tadi. Ya, tidak mengherankan. Memang beginilah seharusnya jam istirahat itu :)

Akan tetapi, tidak sedikit juga murid yang menghabiskan waktu istirahatnya di dalam ruang kelas. Ada yang memakan bekal yang dibawanya sendiri dari rumah, ada yang benar-benar memanfaatkan waktu istirahatnya (baca: tidur), dan bahkan ada yang me-review pelajaran yang dijelaskan gurunya tadi. Memang beginilah seharusnya murid SMA itu. Dan jika kita melihat suasana kelas XI IPA 1, kita hampir pasti menemukan tiga orang anak laki-laki yang duduk di sudut kanan belakang kelas, mengelilingi sebuah meja sambil memegang handphone dan berpikir. Tiba-tiba salah seorang dari ketiga anak laki-laki itu beranjak dari duduknya.

“Aku tahu. Pembunuhnya pasti Jono. Kalau korban meninggal setelah meminum racun dari botol air mineral itu, yang bisa memasukkan racun ke dalam air cuma orang yang pergi membeli air mineral di supermarket, yaitu Jono.”

“Iya, benar. Aku juga berpikir begitu. Tapi, yang membuatku bingung adalah keterangan dari polisi. Polisi bilang racun ditemukan pada air minumnya dan bagian dalam botol, tapi nggak ada racun di tutup botolnya. Apa mungkin tutup botolnya diganti setelah pelaku memasukkan racun ya? Tapi, untuk apa tutup botolnya diganti?”

“Hmm, mungkin untuk menghilangkan bukti dalam kasus ini. Kalian ingat kan kalau di dalam tong sampah yang ada di sekitar tempat kejadian ditemukan jarum suntik yang ada bekas racunnya? Racun yang ada di jarum suntik dengan racun yang digunakan untuk membunuh korban itu sama. Jadi, pelaku memasukkan racun ke dalam botol dengan menggunakan jarum suntik. Pelaku tidak mungkin menyuntikkan racun lewat badan botol. Pelaku pasti menyuntikkan racun lewat tutup botolnya karena tutup botol dapat diganti dengan mudah.”

“Aku mengerti sekarang. Mungkin begini kronologinya. Setelah pelaku membeli air mineral botol di supermarket, ia membuka plastik segel botol dan menyimpannya. Kemudian, ia menyuntikkan racun lewat tutup botolnya dan kemudian mencampurkan racun dengan air minumnya. Karena bekas suntikannya masih ada pada tutup botol, pelaku mengganti tutup botolnya dengan tutup botol baru yang telah dipersiapkan sebelumnya. Setelah itu, plastik segel air minum dipasang kembali. Jadilah kemasan air mineral botol yang berisi racun di dalamnya.”

“Benar sekali. Kasus kali ini telah berhasil dipecahkan oleh kelompok Detektif 46.”

Ya, suasana seperti ini sering dijumpai di sudut ruangan kelas XI IPA 1. Ketiga anak laki-laki itu adalah Panji, Kiki, dan Udin. Mereka menamai diri mereka dengan nama kelompok Detektif 46. Nomor 46 mereka dapatkan saat mereka bertiga ada dalam satu kelompok dalam kegiatan menanam seribu pohon, yaitu kelompok 46. Nomor 46 lah yang menyatukan mereka sehingga mereka menggunakan nomor 46 sebagai nomor kelompok detektif mereka.

Mereka semua sangat tertarik dengan misteri dan teka-teki. Mereka bertiga juga dianugerahi dengan kemampuan penalaran dan analisis yang luar biasa, tidak bisa disamakan dengan anak-anak lain seusia mereka. Sesuai nama kelompoknya, mereka ingin sekali menjadi detektif. Obsesi mereka menjadi detektif timbul karena membaca komik-komik dan novel-novel misteri yang menjadikan detektif sebagai tokoh utamanya. Sosok seorang detektif yang berusaha membongkar trik, memecahkan misteri, mencari kebenaran, dan menegakkan keadilan membuat anak-anak ini ingin sekali menjadi detektif.

Meskipun menamai diri mereka dengan kelompok detektif, mereka belum pernah sekali pun memecahkan misteri atau kasus nyata. Selama ini mereka menghabiskan waktu dengan menyelesaikan soal-soal misteri dan teka-teki yang tersebar luas di internet. Masing-masing soal sudah punya kunci jawaban masing-masing yang diberikan oleh pembuat soalnya sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika mereka memberikan jawaban yang salah. Akan tetapi, mereka sudah menganggap diri mereka sebagai detektif karena sudah berhasil memecahkan soal-soal tersebut.

Mengenai prestasi akademiknya di sekolah, mereka bukanlah peraih juara umum. Nilai sekolah mereka biasa-biasa saja, tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu rendah. Bisa dibilang nilainya sedang-sedang saja. Dari 34 murid di kelasnya, Panji, Kiki, dan Udin berturut-turut menduduki peringkat 20, 21, dan 22 di kelasnya. Mereka sama sekali tidak mementingkan pelajaran-pelajaran di sekolah. Tidak ada pelajaran sekolah yang menarik perhatian mereka selain matematika. Nilai matematika mereka memang selalu juara di kelasnya, tetapi tidak dengan nilai pelajaran-pelajaran lainnya. Mereka lebih mementingkan minat mereka terhadap misteri dan teka-teki dibandingkan dengan nilai sekolahnya. Ya, tidak seperti yang diharapkan dari anak-anak dengan kemampuan penalaran dan analisis yang jauh di atas rata-rata.

Tiba-tiba kembali terdengar suara bel diikuti dengan suara guru petugas piket, “anak-anak harap segera masuk ke kelas masing-masing.”

Semua murid masuk ke dalam kelasnya masing-masing dan bersiap-siap untuk kembali menimba ilmu dari gurunya.

* * *

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.25 WIB. Sementara guru masih menjelaskan pelajaran di depan kelas, tidak ada lagi murid yang bisa berkonsentrasi karena sudah lelah dan mengantuk. Bahkan beberapa murid sudah tertidur dengan lelap tanpa diketahui oleh gurunya. Semua murid menantikan satu tanda yang bisa membebaskan mereka semua dari penderitaan ini, yaitu bel pulang sekolah. Kegiatan belajar-mengajar di sekolah selesai pada pukul 15.30 WIB. Itu artinya penderitaan ini akan berakhir 5 menit lagi. Bahkan ada yang sudah mempersiapkan diri untuk pulang. Mereka memanfaatkan waktu 5 menit terakhir untuk memasukkan semua buku pelajarannya ke dalam tas. Peribahasa “sedia paying sebelum hujan” sudah berhasil mereka terapkan. Luar biasa!

Akhirnya bel pulang sekolah telah berbunyi. Kegiatan belajar-mengajar di sekolah telah usai. Setelah berdoa dan memberi salam kepada guru, semua murid melangkahkan kakinya keluar dari ruang kelas sambil meneriakkan “AKU BEBAAAAAS!!!” di dalam hatinya. Yang jelas sekarang penderitaan lebih dari 7 jam di ruang kelas telah berakhir. Terima kasih, bel pulang sekolah :)

Bagi beberapa murid, bel pulang sekolah belum bisa menggerakkan hati dan kakinya untuk pulang ke rumah, karena masih ada satu kegiatan yang menunggu, yakni kegiatan ekstrakurikuler. Setidaknya kegiatan ini bukanlah kegiatan yang menyiksa seperti kegiatan belajar di kelas. Ekstrakurikuler yang ada di SMAN 46 adalah Paskibra, Pramuka, PMR (Palang Merah Remaja), dan kelompok olahraga (sepak bola, futsal, bola voli, dan basket). Akan tetapi, yang melaksanakan latihan rutin setiap harinya hanyalah futsal. Panji, Kiki, dan Udin lagi-lagi bergabung sepaket di dalam ekstrakurikuler futsal. Benar-benar kelompok yang tidak bisa dipisahkan.

Sore itu, Kiki dan Udin yang bertugas untuk mempersiapkan lapangan dan perlengkapan untuk latihan. Sementara Udin mempersiapkan lapangan, Kiki pergi ke gudang untuk mengambil bola futsal. Ini adalah pengalaman pertama kalinya bagi Kiki untuk masuk ke gudang perlengkapan. Ia selalu bertanya-tanya apa saja isi gudang perlengkapan dan kali ini ia berkesempatan membongkar gudang untuk memuaskan rasa ingin tahunya terhadap gudang perlengkapan.

Perlu waktu yang lama bagi Kiki untuk menemukan perlengkapan yang dibutuhkan karena ia belum mengetahui dimana perlengkapan latihannya diletakkan sehingga ia harus membongkar setiap sudut gudang untuk menemukannya. Ada secarik kertas yang sudah penuh debu tergeletak di atas lemari. Jelas bahwa kertas itu sudah lama berada di atas lemari dan tidak ada seorang pun yang menyentuhnya. Karena penasaran, Kiki mengambil kertas itu dan membersihkan debu yang menempel pada kertas. Ada sebuah tulisan di kertas itu. Sebuah tulisan tangan yang agak sulit dibaca,

Semua kekayaan dan harta karunku? Jika kau menginginkannya, aku akan membiarkanmu memilikinya. Carilah. Aku meninggalkan semuanya di tempat itu

“Apa? Harta karun? Emang masih ada harta karun di zaman modern gini? Ah, paling kerjaan iseng orang aja nih,” pikir Kiki.

“Tapi, kok kayaknya nggak asing ya dengan kata-kata di tulisan ini? Hmm, pernah baca dimana ya? Ah, dibawa aja dulu. Nanti coba ditunjukin ke Panji dan Udin. Mungkin mereka tahu,” pikir Kiki sambil melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya.

Setelah itu, Udin kembali ke lapangan futsal sambil membawa bola futsal yang telah ditemukannya dengan susah payah.

“Kok lama sih, Ki? Padahal cuma nyari bola futsal,” kata Udin kepada Kiki.

“Maaf ya, Din. Maklum, baru pertama kali masuk ke gudang. Terpaksa harus bongkar gudang cuma untuk nyari bola futsal ini. Eh Din, ada yang mau aku tunjukin ke kamu dan Panji. Tadi aku nemu kertas yang nggak asing di gudang, tapi aku nggak terlalu ingat. Mungkin kamu atau Panji tahu sesuatu.”

“Oke, Ki. Nanti kita bahas sehabis latihan ya?”

“Oke.”

To be continued …

Catatan: semua nama tokoh, watak, latar, dan kejadian di atas hanyalah fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan dengan kehidupan nyata, saya mohon maaf karena benar-benar tidak ada terbersit niat sedikit pun untuk menceritakan ulang kejadian tersebut. Semuanya murni karangan dari penulis.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,707 other followers

%d bloggers like this: